Dialog Abdul Muthalib dengan Abrahah


يَمْنَعُ رَحْلَهُ فَامنَعْ رِحَالَك

لَا هُــمَّ إِنَّ المَــرْءَ

ومحاولـهم أبـدا محالك

لا يغلـبنّ صليبــهم

وعَابِدِيـهِ اليَــوْمَ آلَك

وَانْصُر عَلَى آل الصَّلِيب

 

Ya Allah sesungguhnya seseorang telah menjaga rumahMu, maka jagalah rumahMu hari ini.

Jangan biarkan salib dan kekuatan mereka menghancurkan rumahMu.

Menagkanlah keluargaMu  hari ini atas kaum Salib dan para penyembahnya.

 

          Syair tersebut digubah oleh Abdul Muthalib, kakek Nabi Muhammad Saw., pada saat Ka’bah ingin dihancurkan oleh pasukan Abrahah. Abdul Muthalib adalah pemimpin Suku Quraisy yang juga memiliki tanggung jawab untuk mengurus Ka’bah. Peristiwa penghancuran Ka’bah terjadi pada tahun 570 Masehi, tahun di mana manusia paling mulia terlahir ke dunia, Nabi Muhammad Saw.. Peristiwa tersebut merupakan tanda kebesaranNya yang telah mengirimkan burung-burung Ababil pembawa batu neraka untuk menggagalkan upaya penghancuran Ka’bah yang dilakukan oleh pasukan Abrahah.

          Permasalahan bermula saat penduduk Najran, yang beragama Nasrani, memusuhi seorang Yahudi dan membunuh kedua anaknya. Kemudian dia mengadukan perihal tersebut kepada Dzu Nawas, seorang raja di Kerajaan Himyar yang terletak di Daerah Yaman. Dia juga meminta Dzu Nawas untuk membalas perlakuan penduduk Najran terhadapnya dan kedua anaknya. Dia memanfaatka ke-Yahudian-nya untuk meminta pertolongan Dzu Nawas.

          Demi menjaga orang Yahudi tersebut dan juga agamanya, Dzu Nawas menyetujui permintaannya kemudian mengirimkan bala tentara untuk memerangi penduduk Najran. Salah satu penduduk Najran, yang bernama Daus Dzu Tsa’laban berhasil kabur dari peperangan tersebut. Dia meminta pertolongan kepada Kaisar Kerajaan Romawi dan membujuk Kaisar dengan memperlihatkan sebuah Kitab Injil yang sudah terbakar.

          Akhirnya, Kaisar Romawi menyetujui permintaannya dan menulis surat permohonan kepada Raja Najasyi di Habasyah untuk ikut serta membantu memerangi Dzu Nawas. Raja Najasyi mengirimkan 70.000 bala tentaranya dari Habasyah yang dipimpin oleh dua panglima perang, Abrahah al-Asyram dan Aryath. Kemudian terjadilah peperangan antara tentara Romawi dan Habasyah melawan tentara Dzu Nawas. Hingga akhirnya tentara Dzu Nawas berhasil dikalahkan.

          Setelah Dzu Nawas terbunuh, terjadi kekosongan kekuasaan. Kemudian terjadi perselisihan antara Abrahah dan Aryath dalam memperebutkan kekuasaan di Kerajaan Himyar yang berujung pada peperangan. Aryath berhasil merobek hidung dan mulut Abrahah dengan pedangnya sebelum akhirnya Aryath terbunuh di tangan Atudah, pembantu Abrahah. Oleh karena hidung dan mulutnya yang terluka, Abrahah dijuluki al-Asyram yang artinya terkoyak atau terbacok.

Perselisihan yang terjadi antara Abrahah dan Aryath membuat Raja Najasyi sangat marah. Namun pada akhirnya, Abrahah berhasil membujuk dan merayu Raja Najasyi dengan mengirimkan banyak hadiah dan berjanji kepada Rajasyi untuk membangun sebuah gereja di Yaman untuk Raja Najasyi.

Gereja yang di bangun Abrahah sangatlah besar dan megah. Sampai-sampai diceritakan dalam satu riwayat bahwa gereja tersebut sangatlah tinggi, hingga kopiah seseorang bisa jatuh dari kepalanya jika dia ingin melihat atap gereja dari bawah. Dengan membangun gereja tersebut, Abrahah berencana menandingi Ka’bah milik Orang Arab dan juga mengalihkan ibadah haji dari Ka’bah menuju gereja yang telah dibangunnya[1].

Mendengar kabar tersebut, orang-orang Arab merasa geram, terutama Suku Quraisy yang saat itu dipercaya untuk mengurus Ka’bah dan segala keperluan orang-orang yang beribadah haji. Untuk membalas dendam, beberapa orang pemuda Quraisy masuk ke dalam gereja tersebut kemudian menyalakan api di dalamnya. Cuaca yang sangat panas membuat api membesar dan membakar gereja, hingga akhirnya gereja tersebut pun runtuh.

Abrahah yang sangat marah atas kejadian tersebut segera mengirimkan pasukan yang sangat besar untuk menghancurkan Ka’bah sebagai upaya balas dendam. Ada delapan gajah dalam pasukan tersebut, salah satunya amat sangat besar bernama Mahmud, tidak pernah ada gajah yang lebih besar dari Mahmud sebelumnya.

Ketika pasukan Abrahah masuk ke Mekah, mereka menjarah harta dan barang-barang berharga milik penduduk Mekkah, termasuk 200 unta milik Abdul Muthalib. Abrahah mengutus salah satu pasukannya untuk memberi tahu pemimpin Mekah – Abdul Muthalib – bahwa dia ingin menghancurkan Ka’bah dan mengizinkan penduduk Mekah jika ingin menghalangi dan memerangi mereka.

Penduduk Mekah yang semula ingin memerangi dan menghalangi pasukan Abrahah tiba-tiba mengurungkan niat mereka sebab melihat betapa besarnya pasukan yang dibawa Abrahah. Kemudian Abdul Muthalib berkata, “demi Allah kami tidak ingin memerangi Abrahah. Ka’bah adalah rumah Allah, kalau Allah ingin menghalangi Abrahah menghancurkan rumahNya, maka Dia akan menghalanginya. Tapi jika Dia ingin membiarkannya, maka kami tidak sanggup untuk melawan pasukan Abrahah”. Kemudian Abdul Muthalib memerintahkan penduduk Mekah untuk mengungsi ke atas bukit.

Abdul Muthalib menghampiri Dzu Nafar, salah satu tawanan pasukan Abrahah, dia menyampaikan keinginannya untuk bertemu Abrahah. Abdul Muthalib adalah seorang yang bijaksana, wibawa terpancar dari wajahnya, bahkan ketika Abrahah melihat Abdul Muthalib dia langsung menaruh hormat dan turun dari singgasananya.

Tanpa disangka, Abdul Muthalib malah meminta ganti 200 unta miliknya yang telah diambil oleh pasukan Abrahah. Lalu Abrahah berkata kepadanya, “sungguh aku terkesima ketika melihat wibawamu yang terpancar dari wajahmu, tetapi semua itu hilang seketika saat kau berbicara kepadaku dan meminta ganti unta-untamu, sedangkan kau sama sekali tidak peduli dengan agamu dan nenek moyangmu juga tidak menyinggung tentang Ka’bah yang ingin aku hancurkan?”

Lalu Abdul Muthalib menjawab, “aku adalah pemilik unta tersebut, sedangkan Ka’bah juga ada Pemiliknya yang akan menghalangimu.” Abdul Muthalib pergi menuju Ka’bah kemudian memegang pengait Ka’bah sambil berdoa kepada Allah agar menghancurkan Abrahah dan pasukannya sambil melantunkan sebuah syair

يَمْنَعُ رَحْلَهُ فَامنَعْ رِحَالَك

لَا هُــمَّ إِنَّ المَــرْءَ

ومحاولـهم أبـدا محالك

لا يغلـبنّ صليبــهم

وعَابِدِيـهِ اليَــوْمَ آلَك

وَانْصُر عَلَى آل الصَّلِيب

 

 Ya Allah sesungguhnya seseorang telah menjaga rumahMu, maka jagalah rumahMu hari ini.

Jangan biarkan salib dan kekuatan mereka menghancurkan rumahMu.

Menagkanlah keluargaMu  hari ini atas kaum Salib dan para penyembahnya.

 

          Kemudian, dengan kebesaran Allah terjadilah apa yang tertulis dalam Surat al-Fil. Allah menghancurkan pasukan Abrahah, mengiriminya burung-burung Ababil pembawa batu neraka yang melempari pasukan Abrahah dan menjadikan mereka bagai daun-daun yang terbakar.

 

 

Referensi:

- Tafsir Ibn Katsir

- Tarikh Ibn Khaldun

         



[1]  Ibadah haji merupakan syariat yang dibawa oleh Nabi Ibrahim, jadi ibadah haji sudah ada sebelum Islam datang.


Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.