Bagaimana Wujud Setan Mesir?
Sejak kecil, saya dan juga anak-anak Indonesia lain sudah diberi asupan tentang bagaimana gambaran makhluk halus tidak kasat mata yang harus ditakuti. Pocong, kuntilanak, genderuwo, tuyul dan antek-anteknya yang sebenarnya terlihat biasa saja jika orang tua kita tidak pernah menakut-nakuti kita yang masih keluyuran sampai maghrib dengan mengkambinghitamkan para makhluk halus. Mereka juga tidak akan terlihat menakutkan jika saja kita tidak pernah menonton film horor yang memberi kita pengetahuan tentang bagaimana pocong yang melompat ternyata juga bisa terbang, bagaimana asal usul suster ngesot, kenapa kita harus memencet klakson di Terowongan Kasablangka. Seandainya kita tidak memiliki pengetahuan tentang semua itu, tentu kita akan bersikap biasa saja ketika berhadapan dengan makhluk-makhluk halus tersebut.
Sebagai
orang yang sangat takut pada makhluk halus, merantau ke negara lain membuat
saya menjadi seorang yang pemberani. Bagaimana tidak, saya tidak tahu bagaimana
gambaran makhluk halus yang diyakini oleh masyarakat Mesir. Apakah seperti
mumi? Tapi jika mumi diadu dengan pocong, saya yakin pocong yang menang. Ketidaktahuan
saya tentang gambaran makhluk halus membuat saya tidak pernah merasa takut
selama beberapa tahun di Mesir. Bahkan saya berani tidur sendiri di kamar, atau
ditinggal sendiri di rumah. Kalau boleh jujur, saya lebih takut pada maling di
Mesir yang ceritanya sering disebar di grup-grup whatsapp ketimbang hantu Mesir
yang saya tidak tahu bagaimana wujudnya.
Namun
sepertinya sifat berani saya hanya berlaku di Mesir, buktinya ketika saya
pulang ke Indonesia, saya kembali menjadi penakut. Malam adalah waktu yang
paling ingin saya lewati dengan cepat. Bayangan tentang pocong dan
antek-anteknya kembali bergentayangan di kepala saya. Selama di Indonesia saya
tidur sendiri di kamar, dalam satu malam saya bisa terbangun sampai lima kali,
sebab saya selalu merasa ada seseorang yang mengawasi saya, bahkan tak jarang
saya memeriksa kolong tempat tidur berkali-kali ketika terbangun malam
hari, takut kalau-kalau ada yang bersembunyi di bawah tempat tidur saya. Iya, padahal hanya halusinasi berlebih.
Saya mendapat sedikit pengetahuan tentang gambaran makhluk halus yang diyakini masyarakat Mesir dari novel “al-Ayyam” yang ditulis oleh Taha Husein, seorang sastrawan hebat berkebangsaan Mesir yang mengalami kebutaan sejak masih kecil tetapi dia sangat masyhur dan memiliki banyak sekali karya sastra baik berupa puisi ataupun prosa.
Dalam
novelnya dia bercerita, bahwa saat kecil ketika ia terbangun di malam hari
dan di sekitarnya terdapat saudara-saudaranya yang sedang mendengkur dengan
sangat keras, ia menutup wajahnya dengan selimut. Sebab dia meyakini bahwa jika
dia tidur sedangkan wajahnya atau salah satu anggota tubuhnya tersingkap dan
tidak tertutup selimut, maka anggota tubuh tersebut akan dijadikan mainan oleh
para Jin Ifrit yang tersebar di dalam rumah. Jin Ifrit bersembunyi di
bawah tanah saat siang hari. Ketika matahari terbenam, manusia kembali ke
tempat tidurnya, lampu-lampu dimatikan, kesunyian malam mulai terasa, para Jin
Ifrit muncul dari bawah tanah dan memenuhi setiap ruang kosong.
Dia
juga sering terbangun di malam hari dan mendengar suara ayam-ayam berkokok
saling bersahutan, kemudian dia berusaha keras untuk membedakan suara-suara
tersebut. Sebab dia yakin bahwa di antara suara-suara tersebut ada yang memang
benar suara ayam, ada juga suara Jin Ifrit yang menyamar menjadi ayam dan
mengeluarkan suara seperti ayam.
Kalau
di Indonesia, jika tengah malam kamu mendengar suara ayam, maka ada dua
kemungkinan, yang pertama ada malaikat turun atau yang kedua ada kuntilanak.
Entah benar atau tidak, saya juga tidak memiliki bukti yang kuat untuk cerita tersebut. Tapi ketika mendengar suara ayam di tengah malam, yang ada di kepala
saya hanya kuntilanak, bukan malaikat. Padahal jika malaikat yang ada di kepala
saya, bisa jadi saya akan segera ke kamar mandi, berwudu kemudian melaksanakan
salat tahajud, bukan malah makin dalam menarik selimut.
Dia
juga bercerita dalam novelnya, bahwa dia sangat takut apabila para Jin Ifrit
tersebut menyerupai orang-orang yang berdiri di depan pintu, menghalangi pintu
dan mereka memiliki gerakan yang berbeda-beda, dia menganalogikannya dengan
gerakan para sufi yang sedang mabuk zikir di dalam majlis zikir. Menurutnya,
tidak ada cara yang bisa menyelamatkannya dari para Jin Ifrit tersebut selain
menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut, tanpa menyisakan jarak sedikitpun
antara selimut dan tubuhnya, dan dia percaya bahwa jika ada jarak antara
selimut dan tubuhnya, maka Jin Ifrit akan mengisi jarak tersebut dan akan
mengganggunya.
Di
sini, saya bisa merasakan bagaimana seorang anak kecil menghabiskan malamnya
dalam rasa takut dan waspada, tidak merasakan tidur yang nyenyak kecuali
sebentar. Sebab saya juga mengalami hal tersebut. Padahal saya tahu, saya tidak
perlu takut. Sebab manusia dan jin sama-sama makhluk ciptaan Allah. Tetapi kadang rasa takut berlebih memang bisa
mempengaruhi tindak-tanduk seseorang.
Pertanyaannya,
apakah setelah mengetahui gambaran tentang setan Mesir yang ada dalam novel
Taha Husein saya menjadi takut hantu di Mesir? Jawabannya tidak. Mungkin
karena saya membayangkan bentuk Jin Ifrit itu seperti Si Kentung di sinetron
Tuyul dan Mbak Yul, bukannya terlihat seram malah terlihat lucu. Saya jadi
penasaran bagaimana rasanya takut hantu di negara-negara lain selain Mesir dan
Indonesia.
Saya
punya tips untuk diri saya sendiri dan kalian yang tidak berani tidur sendiri:
memelihara kucing. Saya sudah memiliki niatan memelihara kucing untuk menemani
saya di kamar nanti. Salah satu faktor yang membuat saya selalu takut tidur di kamar saya sendiri bisa jadi karena kamar yang saya
tempati adalah ruangan yang sudah lama tidak terpakai sehingga suasananya
menjadi mistis. Oleh karena itu saya hanya perlu membiasakan kamar saya untuk dipakai salat
dan nderes al-Qur’an agar menjadi tempat yang nyaman untuk ditiduri.


Tidak ada komentar: