Kau
Kau adalah Piramida.
Langkahku hengkang menatap ke dalammu;
kelam, lembab, senyap.
Memupuk penasaran, disiram takut.
Ada apa di sana?
Mumi Firaun atau cawan emas?
Kau adalah padang pasir.
Kaki telanjangku amat ringkih menjejak pasirmu,
terik matahari tak henti-hentinya mengancamku,
bahwa kerongkongan akan dilanda kemarau.
Adakah oase di tengah sana?
Kau adalah Gunung Sinai.
Jatuh topiku saat memandang puncakmu;
saking jauhnya, terlampau jauh.
Katanya ada hal indah di atas sana.
Sayangnya aku hanya percaya apa yang kulihat,
bukan apa yang kudengar.
Kau adalah Sungai Nil.
Membungkam dahaga jutaan nyawa,
membungkam mulutku, kebingungan,
diksi apa lagi yang sepadan dengan pesonamu?
Kau adalah Kota Kairo.
Siang bermandikan debu,
malam bermandikan cahaya.
Bising dan polusi jadi makanan sehari-hari.
Aku saksi empat tahunmu bertransformasi.
Kendati demikian,
aku tak mungkin melupakan Piramida,
aku tak sanggup mencampakkan padang pasir,
aku tak mampu mengabaikan indahnya Puncak Sinai,
dan Sungai Nil selalu memiliki candu,
juga sangat mustahil aku akan meninggalkan Kota Kairo tanpa pilu,
tanpa duka lara.
Kau
Reviewed by Pramudiksi
on
Desember 28, 2020
Rating: 5
Reviewed by Pramudiksi
on
Desember 28, 2020
Rating: 5

