Candaan Perusak Masa Depan


Beberapa tahun lalu.
Saya berjalan ke dalam kelas dengan membawa setumpuk buku, tak lupa matan al-Fiyah serta Arba'in Nawawi di dalam saku. Tiba-tiba di belakang saya ada yang teriak.

"Maa syaa Allah belajar!"
"Ciyee rajin!"
"Lagi kesurupan jin apa ente?"

Saya malu. Saya membalas sorakan mereka dengan nyengir kuda. Kemudian meletakkan buku di kelas. Lalu ikut nimbrung mereka ngobrol sambil ngemil. Hehe.

Loh, kok, ngga jadi belajar?
Saya bilang ke mereka kalau saya hanya ingin menyampul buku di kelas. Kenapa saya berbohong? Saya tidak mau dibilang sombong. Saya tidak mau dibilang sok rajin. Saya tidak mau diledek. Dan intinya saya malas. Hehe.

Sejak saat itu, saya bertekad tidak akan belajar di depan mereka (kecuali waktu-waktu ujian tentunya). Tapi masalahnya, kapan saya tidak bersama mereka?

Sekarang waktunya berandai-andai.
Seandainya waktu itu saya tidak ikut nimbrung mereka, mungkin sekarang saya tak perlu berlari mengejar ketertinggalan saya. Seandainya waktu itu saya tutup kuping, berarti saya tidak dengar. Hehe apaansih.

Saya tidak menyalahkan mereka. Saya sadar kalau hal serupa juga sering saya lakukan. Mungkin ini karma (jangan bayangin Roy Kiyoshi). Entahlah, sudah berapa banyak orang yang saya rusak masa depannya, hanya dengan candaan seperti itu.

Iya, ini nasihat untuk diri sendiri.


Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.