Pulang
Pulang itu tujuannya hanya satu. Bertemu Enyak dan Babeh. Ingin lihat Enyak setiap hari kerjanya cukup rebahan sambil senyum, sementara pekerjaan rumah saya yang ambil alih. Ingin lihat Babeh menyeruput teh manis racikan saya setiap pulang kerja.
Hidup di pondok selama enam tahun, membuat saya merasa bahwa rumah --seakan-akan-- tidak lebih dari sebuah tempat singgah. Ditambah lagi sekarang saya hidup di tanah rantau. Saya lebih banyak tinggal di luar rumah, yang artinya waktu rebahan Enyak lebih sedikit daripada waktu bekerjanya, yang artinya Babeh lebih sering menyeruput teh racikan Enyak atau adik-adik saya dibanding teh racikan saya. Kemudian saya merasa berkewajiban untuk menebus ketidakhadiran saya.
Tapi rumah tetaplah rumah. Sebuah tempat yang berisi orang-orang berharga, tujuan terakhirmu ketika tak ada tempat yang bisa kau singgahi. Tempat di mana seluruh anggotanya memiliki komitmen untuk saling menjaga sejak mereka lahir sampai berakhir.
Ini ekspektasi, cuy. Semoga realitanya juga sama. Kata teman saya "paling seminggu di rumah udah berantem, diomel-omelin sama Enyak".
Sebab di beberapa kasus sebelumnya, ketika pulang dari pondok, saya menjadi raja di rumah selama dua hari saja. Mau makan ini itu dibuatkan, butuh ini itu dibelikan. Hari setelahnya? Ya, jadi pesuruh. Tapi memang seharusnya saya menjadi pesuruh. Sedangkan berantem dan diomel-omelin adalah sebuah keniscayaan antara Ibu dan anak. (apa cuma gue doang ya? Hehe)
Di malam sebelum para santri pulang ke rumah masing-masing, Pak Kyai selalu memberi wejangan, "pertama kali yang harus kalian lakukan ketika meninggalkan pondok adalah mencium tangan Ibu dan Bapak kalian". Para santri tentu paham kalimat tersebut dengan segala mafhum mukholafahnya. Ibu dan Bapak adalah prioritas. Perintah mereka harus dilaksanakan, larangan mereka harus ditinggalkan.
Sekarang ini kasusnya berbeda dengan yang sebelumnya. Bukan perihal pulang dari pondok. Dari segi kuantitas waktu, perbedaannya jelas sangat kontras. Bayangkan saja, tiga tahun tidak bertatap muka apa mau waktunya dihabiskan hanya untuk berantem? Wkwkwkwk. Dari segi umur pun, antara saya dan Enyak bukan lagi seperti raja dan tawanan perang, tetapi lebih seperti dua orang sahabat.
Ah, intinya ngga ada. Wkwkwk.

Tidak ada komentar: