Belajar Karena Apa?
Menunggu hasil ujian turun adalah saat-saat paling menegangkan. Entahlah, menurut saya lebih menegangkan daripada saat ujian itu sendiri. Saya mengalaminya.
Selasa sore, hasil ujian saya sudah turun, orang-orang ramai membicarakannya di grup whatsapp. Ketika itu, saya ada jadwal dauroh. Saya benar-benar tidak fokus mendengarkan syekh yang menjelaskan pelajaran. Pikiran saya melayang ke kertas hasil ujian yang sudah ditempel.
Deg-degan. Khawatir. Sedih. Takut hasil ujian nanti tidak sesuai dengan apa yang diinginkan. Saya yakin bukan hanya saya yang mengalami perasaan seperti ini. Bahkan mungkin ada yang sampai menangis, karena kepalanya dipenuhi pikiran buruk pada hasil ujiannya.
Kemudian, lama saya merenung. Hasil ujian saya sudah ditempel. Artinya, nilai ujian saya sudah permanen, tidak bisa diubah-ubah lagi. Lalu saya bisa apa? Berdoa supaya saya lulus? Hasil sudah ditempel, kalau ternyata saya tidak lulus apa kemudian nilainya bisa berubah begitu saja karena saya berdoa?
Tentu tidak.
Tiba-tiba saya teringat kisah Imam Jalaluddin ar-Rumi, ketika beliau diperintahkan oleh gurunya untuk membeli khamr (arak). Tetapi beliau ragu melakukannya karena beliau adalah orang yang dihormati di kampungnya. Apa kata orang-orang nanti kalau beliau membeli khamr?
Pelajaran yang bisa diambil dari kisah Imam Jalaluddin ar-Rumi adalah "apakah kamu menuntut ilmu karena Allah atau karena harga diri kamu?". Kalau kamu memuntut ilmu karena Allah -- bukan karena harga diri kamu --, kenapa kamu takut tidak lagi dihormati oleh orang-orang hanya karena kamu membeli khamr?
Saya pun bertanya kepada diri saya "apakah saya menuntut ilmu karena Allah atau karena nilai?" Kenapa saya begitu takut kalau nanti nilai saya buruk? Toh, apapun yang Allah beri, pasti ada hikmah dibaliknya.
Saya sadar, yang bisa saya lakukan adalah menata hati sambil bershalawat sebanyak-banyaknya. Menata hati supaya ikhlas menerima apapun yang Allah takdirkan. Mensugesti diri supaya tidak jatuh dan tidak menyerah ketika nilai saya tidak sesuai yang diharapkan.
Saya ingat ucapan guru saya dulu di tsanawiyah, ketika pelajaran fiqih tentang niat :
"Menata hati itu sulit".
Kairo, 14 Juli 2018.

Tidak ada komentar: