Engkong Geter
Suatu peristiwa yang sering terjadi di Mesir, membuat saya kesal sekaligus kagum.
Sebut saja Engkong, laki-laki tua yang setiap harinya berdagang di warung kecil miliknya. Setiap hari, kawan, tak pernah absen. Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jum'at, Sabtu dan Minggu. Warungnya buka pukul 7 pagi, tutup pukul 10 malam. Istiqomah, kawan, khoirun min alfi karomah.
Jangan tanya sudah berapa lama beliau berdagang, karena saya tidak tahu. Suer. Tapi yang pasti sudah lebih dari dua tahun. Karena sejak pertama kali saya terpapar matahari Mesir dua tahun yang lalu, warung Engkong sudah berdiri kokoh.
Beberapa minggu yang lalu, saya lihat tepat di depan warung Engkong sedang dibangun sebuah toko. Saya belum tahu itu toko apa karena belum terisi. Beberapa hari kemudian, toko baru tersebut sudah rampung. Ternyata, toko tersebut menjual sama persis dengan apa yang dijual di warung engkong. Bedanya, toko baru tersebut lebih lengkap dari warung Engkong. Kalau kalian jadi Engkong apa yang kalian lakukan?
Kalian ingat waktu kecil kalian beli jajan di warung, kemudian teriak "beliiiii... beliii..."? Iya, kawan, warung Engkong menjual sembako dan berbagai jajanan. Jangan bayangkan warung Engkong dan toko baru jaraknya jauh, seperti terpisah jalan raya misalnya. Tidak, kawan, kalau kau terpeleset kulit pisang ketika keluar dari warung Engkong, maka kau akan jatuh dan kepalamu tepat berada di depan toko baru. Artinya apa? Sangat dekat.
Kejadian seperti ini tidak hanya sekali dua kali saya saksikan. Bahkan ada yang sampai mengganti barang dagangannya -- sembako -- menjadi jaket dan berbagai macam baju, hanya karena warung baru di depannya lebih laku dari warung miliknya.
Di Indonesia, bahkan meskipun warungnya sudah tutup dan tidak berjualan lagi, orang yang ingin membuka warung baru pun meminta izin kepada pedagang lama. Demi menjaga keharmonisan sesama tetangga. Indahnya Indonesiaku.
Meskipun banyak kejadian seperti ini, mereka -- orang-orang Mesir -- tetap hidup damai. Tidak ada 'cekcok' atau 'ngambek' hanya karena masalah warung. Warung-warung damai hidup berdampingan bak alfam*rt dan indomar*t.
Kejadian seperti ini membuat saya kesal sekaligus kagum. Kesal karena si penjual baru -- seakan-akan -- seperti tidak menghormati penjual lama. Kagum karena mereka benar-benar percaya bahwa rizki mereka sudah diatur oleh Allah dan tidak akan tertukar.
Terimakasih Mesir. Banyak hikmah yang kau beri. Hihi.

Tidak ada komentar: