Ternyata Ada yang Lebih Bisu dari Si Bisu


"Selamat datang!"

Namanya 'Risiko', ia menyambutku dengan senyum lebar - atau lebih tepatnya seringai, mengulurkan tangannya dan mengajakku bersalaman. Aku ragu menyambut uluran tangannya. Lama aku berpikir dan merenung, hingga aku tidak sadar bahwa kalender di dinding rumahku telah berganti.

Bertahun kemudian kusambut uluran tangannya. Aku menjabatnya sembari memperkirakan berapa persen peluang ia akan menaklukkanku dan berapa persen peluang aku berhasil menggagalkannya. Dengan kesadaran penuh sebagai makhluk - yang perhitungannya kerap kali salah.

"Aku menerimamu, Risiko, bagaimanapun itu."

Pasca tragedi bersalaman itulah yang kemudian kusebut "hal-paling-bodoh-yang-aku-alami-semasa-hidupku". Bahkan ilmu logika saja tidak bisa mengurai hal tersebut. Entah karena dari awal logikanya sudah salah atau jangan-jangan hal tersebut tidak masuk dalam ranah logika.

"Bagaimana mungkin? Ini tidak masuk akal. Bagaimana mungkin? Ini sungguh tidak masuk akal. Bagaimana mungkin? Ini sungguh sangat tidak masuk akal."

Pertanyaan dan peryataan tersebut menghantuiku setiap saat. Hampir mengalahkan zikir periodik. Tapi aku mengabaikannya, menganggapnya angin lalu.

Aku meruntuhkan prinsip yang kubuat sendiri. Risiko menertawakanku, siap menghampiriku kapanpun aku tidak siap. Aku mengabaikan - apa yang kusebut - isyarat langit. Terlalu takut, kataku. Bagaimana jika langit tak sejalan denganku? Langit - pada waktu itu - memang tak sejalan denganku. Siang kujadikan malam malam kujadikan siang adalah bukti paling konkret ketidakberpihakan langit padaku. Iya, meskipun aku sadar itu kesalahanku.

Sampai akhirnya aku menemukan sebuah lentera. Tidak seperti langit yang hanya memberi isyarat, ia menunjukkan padaku secara gamblang apa yang harus kulakukan untuk mengakhiri - apa yang ia sebut dengan - kebisuan. Diksi 'kebisuan' menggambarkan betapa sunyinya dimensi rasa yang sedang kujalani. Tanpa suara, hanya isyarat-isyarat - yang entah benar atau tidak - sarat makna. Yang maknanya pun hanya berupa asumsi-asumsi. Sepertinya ia lupa menambah istilah 'kebutaan'.

Nampaknya, di sinilah bahasa memiliki peran krusial. Sepatutnya ada sesuatu yang bisa memecah kesunyian. Bukan hanya suara-suara macam igauan, tetapi suara yang bisa dilafalkan, memiliki arti dan menunjukkan maksud tertentu.

Ternyata ada yang lebih bisu daripada si bisu. Makhluk yang berbudaya, yang memiliki cipta, rasa dan karsa, namun tidak mampu mendayagunakan bahasa. Tidak bisa mengalih-dimensikan cipta, rasa, karsa menjadi karya.

Sungai yang jernih. Airnya mengalir dengan sendirinya, dari hulu ke hilir. Pasrah mengikuti hembusan angin. Tak pernah dibendung sehingga tetap stagnan. Juga tak pernah digali hingga mengaliri irigasi-irigasi sawah. Apalagi dicabuti rumputnya, dibersihkan, dihias hingga orang-orang menyebutnya tempat wisata. Tidak. Dia tetaplah - hanya - sungai. 

Lentera yang menerangi jalanku semakin meyakinkanku tentang arah jalan pulang dan ke mana aku harus melangkah, transportasi apa yang harus kugunakan dan berapa lama waktu yang harus kutempuh.

Sekarang langkahku semakin tenang dan pasti. Rantai yang membelenggu kakiku berhasil kulepas lalu kukaitkan di taman yang indah. Aku tak perlu lagi menoleh ke belakang. Aku tak perlu lagi dihantui rasa bersalah.

Sungguh, hujan tak akan sampai hati meninggalkan bumi dalam kekeringan. Meskipun tak bisa dipungkiri, bahwa hujan kerap kali membawa petaka. Tetapi, andai hujan punya hati, ia pasti menghendaki kebaikan dan kemakmuran untuk bumi. Sejalan dengan firman Tuhan yang sering termaktub dalam kitabNya, bahwa Tuhan mengirim hujan untuk menghijaukan bumi.

Aku masih harus terus melangkah. Banyak terminal-terminal yang harus aku singgahi. Banyak faedah-faedah yang harus kuserap. Banyak hal yang harus kuperjuangkan. Sebisa mungkin menghindari hal yang berpotensi mengacaukan fokusku. Aku tidak boleh merusak urutan rencana yang telah kurangkai dengan nalarku. 

Hal-paling-bodoh-yang-aku-alami-semasa-hidupku ini cukup unik untuk dikenang. Banyak hal yang bisa dijadikan pelajaran. Sedih memang sebuah keniscayaan dalam setiap tragedi hidup, namun ingat, kehidupan terus berjalan. Saat ini aku sudah menemukan apa yang harus aku akhiri.

Jika menurut banyak orang, seseorang harus bisa mengakhiri apa yang sudah ia mulai, maka di sinilah aku akan mengakhiri tulisan yang sudah kumulai, dengan ucapan yang tidak begitu istimewa:

"Selamat tinggal!" 

2 komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.